Sepuluh tahun lalu, sebuah bisnis bisa dianggap sudah masuk dunia digital hanya dengan memiliki website dan akun media sosial. Lima tahun kemudian, standarnya mulai berubah. Bisnis setidaknya perlu memiliki toko online dan menyediakan pembayaran digital.

Namun, di tahun 2026, standar tersebut kembali berubah. Bisnis digital bukan lagi hanya tentang ada di dunia digital, tetapi tentang bagaimana sistem, data, dan pengalaman pelanggan dapat dirancang untuk bekerja bersama dengan lebih cerdas.

Inilah yang sedang terjadi dalam perkembangan Digital Business di 2026. Memahaminya bukan hanya penting bagi pemilik bisnis, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin berkarier di antara dunia teknologi dan bisnis.

Dari Toko Online ke Platform Ekosistem

Salah satu perubahan besar dalam Digital Business adalah cara bisnis melihat platform digital. Platform tidak lagi hanya menjadi tempat yang mempertemukan penjual dan pembeli. Kini, banyak platform berkembang menjadi sebuah ekosistem yang menyediakan berbagai layanan tambahan. Mulai dari program berlangganan, layanan pengiriman dan fulfillment, iklan berbayar di dalam platform, hingga layanan keuangan yang terintegrasi atau embedded finance.

Perubahan ini juga ikut memengaruhi cara bisnis mendapatkan pendapatan. Model "bayar setiap transaksi" yang sebelumnya banyak digunakan kini mulai dilengkapi dengan berbagai sumber pendapatan lain, seperti langganan, iklan, dan layanan tambahan. Bagi bisnis yang berhasil membangun ekosistem seperti ini, platform bukan lagi sekadar tempat menjual produk. Platform justru bisa menjadi salah satu aset utama dalam bisnis.

Zero-Click Commerce, Ketika Pelanggan Tidak Perlu Mengunjungi Tokomu

Salah satu tren yang menarik dalam perkembangan bisnis digital adalah zero-click commerce. Sederhananya, pelanggan dapat melakukan pembelian tanpa harus mengunjungi website atau aplikasi toko secara langsung.

AI agents, rekomendasi dari marketplace, dan social commerce kini dapat membantu pelanggan menemukan produk hingga melakukan pembayaran dalam satu alur. Pelanggan tidak selalu harus melewati proses klasik seperti mencari produk, membuka website, memasukkannya ke keranjang, lalu melakukan pembayaran.

Perubahan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga mengubah cara bisnis melihat perjalanan pelanggan. Bisnis yang terlalu fokus pada website sebagai satu-satunya tempat terjadinya transaksi bisa kehilangan peluang. Pelanggan mungkin sudah menemukan dan membeli produk melalui platform AI, media sosial, atau marketplace sebelum mereka pernah mengunjungi website brand tersebut.

Social Commerce dan Livestream Shopping

Salah satu bentuk Digital Business yang paling mudah ditemukan saat ini adalah social commerce. Konsep ini memungkinkan pelanggan melakukan aktivitas belanja langsung melalui platform media sosial tanpa harus berpindah ke website lain.

Livestream shopping, video yang bisa langsung digunakan untuk membeli produk, hingga fitur native checkout membuat proses pembelian menjadi lebih sederhana. Pelanggan dapat menemukan produk, melihat penjelasan, dan melakukan transaksi dalam satu platform.

Tren ini juga sangat relevan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penggunaan social commerce berkembang pesat dan platform seperti TikTok Shop serta fitur belanja di Instagram ikut mengubah kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Bagi bisnis, memahami bagaimana ekosistem tersebut bekerja dapat menjadi salah satu keunggulan untuk menjangkau pelanggan dengan cara yang lebih sesuai dengan kebiasaan mereka.

Data sebagai Aset Bisnis Utama

Di balik berbagai perkembangan Digital Business tersebut, ada satu hal yang menjadi fondasi utama, yaitu data. Bisnis yang mampu mengumpulkan, mengelola, dan menggunakan data pelanggan dengan baik dapat menciptakan pengalaman yang lebih sesuai dengan kebutuhan setiap pengguna.

Namun, memiliki banyak data saja belum cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana data tersebut diolah menjadi informasi yang dapat membantu pengambilan keputusan bisnis. Misalnya, kapan promosi tertentu perlu ditampilkan, produk apa yang paling relevan untuk direkomendasikan, atau channel mana yang paling efektif untuk menjangkau kelompok pelanggan tertentu.

Di sinilah analitik bisnis dan sistem informasi memiliki peran penting dalam mendukung Digital Business. Data tidak hanya menjadi kumpulan informasi, tetapi dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan strategi dan mengembangkan bisnis.

Di Sinilah Peran Sistem Informasi

Berbagai tren yang telah dibahas, mulai dari ekosistem platform, zero-click commerce, social commerce, hingga pengelolaan data pelanggan, pada akhirnya membutuhkan satu hal yang sama, yaitu sistem yang dirancang dan dikelola dengan baik. Merancang, mengelola, dan mengoptimalkan sistem inilah yang menjadi salah satu kemampuan penting dalam bidang Sistem Informasi.

Hal tersebut juga menjadi alasan mengapa peminatan Digital Business di Program Studi S1 Sistem Informasi Universitas Dinamika hadir untuk menjawab kebutuhan industri saat ini. Peminatan ini membekali mahasiswa untuk memahami bisnis digital dari dua sisi sekaligus: sisi teknologi, yaitu bagaimana sistem dibangun dan dikelola, serta sisi bisnis, yaitu bagaimana teknologi dapat menciptakan nilai dan mendukung pertumbuhan bisnis.

Di tengah perkembangan transformasi digital yang semakin cepat, kebutuhan terhadap orang yang mampu memahami teknologi sekaligus bisnis juga semakin besar. Bukan hanya orang yang mampu membuat sebuah sistem, tetapi juga mereka yang memahami alasan sistem tersebut dibuat dan bagaimana dampaknya terhadap bisnis.

Bagi kamu yang tertarik berkarier di antara dunia teknologi dan bisnis, seperti memahami ekosistem digital, merancang strategi platform, atau memanfaatkan data untuk mendukung pertumbuhan bisnis, peminatan Digital Business di Sistem Informasi Universitas Dinamika bisa menjadi salah satu langkah untuk membangun fondasi tersebut.