Dalam Sistem Informasi, data bukan hanya sesuatu yang disimpan di dalam database. Data digunakan untuk membantu perusahaan memahami kondisi bisnis dan menentukan langkah yang perlu dilakukan. Semakin besar sebuah perusahaan, semakin banyak pula data yang harus diolah sebelum sebuah keputusan dibuat.
Misalnya, seorang manajer retail melihat bahwa permintaan sebuah produk di Jakarta diperkirakan meningkat dalam beberapa hari ke depan, sementara stok di Surabaya justru masih cukup tinggi. Dari kondisi tersebut, perusahaan perlu menentukan apakah stok harus dipindahkan, produksi perlu ditambah, atau promosi harus dilakukan di lokasi tertentu.
Sebelumnya, sistem informasi mungkin hanya menyediakan laporan penjualan dan jumlah stok untuk membantu manajer menganalisis kondisi tersebut. Namun sekarang, perkembangan Artificial Intelligence (AI), data analytics, dan automation memungkinkan sistem untuk melangkah lebih jauh. Sistem tidak hanya menunjukkan apa yang sedang terjadi, tetapi juga mulai membantu menentukan apa yang sebaiknya dilakukan. Konsep inilah yang dikenal sebagai Decision Intelligence (DI).
Dari DSS Menuju Decision Intelligence
Dalam pembelajaran Sistem Informasi, kita mengenal Decision Support System, atau disingkat DSS, sebagai sistem yang membantu pengambil keputusan menggunakan data dan informasi. DSS dapat menampilkan laporan, analisis, hingga beberapa alternatif keputusan.
Contohnya, sistem dapat menunjukkan bahwa penjualan sebuah produk mengalami penurunan selama tiga bulan terakhir. Dari informasi tersebut, manajer dapat mencari penyebabnya dan menentukan tindakan yang tepat.
Namun, keputusan akhirnya masih berada di tangan manusia. Sistem menyediakan informasi, sementara manusia melakukan analisis dan menentukan tindakan.
Decision Intelligence membawa proses tersebut ke tahap berikutnya. DI menggabungkan data, analytics, AI, automation, serta pemodelan keputusan untuk membantu menghubungkan data dengan tindakan. Sistem dapat menganalisis berbagai kondisi, memperkirakan kemungkinan hasil dari suatu tindakan, kemudian memberikan rekomendasi yang lebih konkret.
Jadi, jika DSS membantu menjawab “apa yang sedang terjadi?” dan “pilihan apa yang tersedia?”, Decision Intelligence mulai membantu menjawab “keputusan apa yang sebaiknya diambil?”
Bagaimana Sistem Bisa Membantu Mengambil Keputusan?
Salah satu hal menarik dari Decision Intelligence adalah tingkat keterlibatan AI dalam proses pengambilan keputusan dapat berbeda-beda.
Pada tahap augmented, AI berperan sebagai pendukung. Sistem mengolah berbagai data dan memberikan rekomendasi, tetapi manusia tetap menentukan keputusan akhir.
Pada tahap guided, sistem mulai mempersempit pilihan berdasarkan hasil analisis. Misalnya, dari beberapa strategi yang tersedia, sistem menunjukkan pilihan yang diperkirakan memberikan hasil paling baik berdasarkan kondisi saat ini.
Sedangkan pada tahap automated, sistem dapat menjalankan keputusan tertentu secara otomatis selama masih berada dalam aturan dan batasan yang telah ditentukan sebelumnya.
Artinya, Decision Intelligence bukan sekadar membuat AI yang bisa memberikan jawaban. Sistem perlu memahami keputusan yang ingin dibuat, faktor yang memengaruhinya, serta dampak dari tindakan yang dipilih.
BI, DSS, dan DI Punya Peran yang Berbeda
Perkembangan ini juga membuat Business Intelligence (BI), DSS, dan Decision Intelligence memiliki fokus yang berbeda meskipun semuanya menggunakan data.
Business Intelligence lebih banyak digunakan untuk memahami kondisi bisnis berdasarkan data yang sudah terjadi. Contohnya, dashboard menunjukkan bahwa penjualan bulan ini turun 15%.
Decision Support System membantu pengguna menganalisis kondisi tersebut dan mempertimbangkan beberapa pilihan.
Sementara itu, Decision Intelligence berusaha menghubungkan keputusan dengan kemungkinan hasilnya. Sistem dapat melakukan simulasi terhadap beberapa tindakan dan memperkirakan dampaknya sebelum keputusan dijalankan. Hasil dari keputusan tersebut juga dapat digunakan sebagai feedback untuk membantu sistem membuat keputusan berikutnya.
Perbedaannya memang terlihat sederhana, tetapi cukup penting. Sistem tidak lagi berhenti pada data > informasi, melainkan mulai bergerak menuju data > analisis > keputusan > tindakan.
Contohnya Ada di Banyak Proses Bisnis
Penerapan Decision Intelligence dapat ditemukan pada berbagai proses yang membutuhkan keputusan secara terus-menerus.
Dalam retail, sistem dapat menganalisis data penjualan, harga, promosi, kondisi pasar, hingga faktor eksternal untuk memperkirakan permintaan produk. Hasilnya dapat digunakan untuk menentukan jumlah stok yang perlu disiapkan di setiap lokasi.
Dalam telekomunikasi, sistem dapat menganalisis pola penggunaan pelanggan untuk menemukan indikasi bahwa seseorang berpotensi berhenti menggunakan layanan. Perusahaan kemudian dapat menentukan tindakan yang lebih sesuai, misalnya memberikan penawaran atau melakukan pendekatan kepada pelanggan tersebut.
Konsep yang sama juga dapat digunakan dalam supply chain, keuangan, pemasaran, procurement, dan operasional. Selama terdapat data dan keputusan yang dapat dimodelkan, sistem dapat membantu perusahaan menentukan tindakan berdasarkan kondisi yang terus berubah.
Hal ini juga menunjukkan pentingnya integrasi dalam Sistem Informasi. Data yang digunakan untuk mengambil keputusan biasanya tidak berasal dari satu sumber saja. Data penjualan dapat berasal dari sistem POS, informasi pelanggan dari CRM, stok dari inventory system, sementara data eksternal dapat berasal dari sumber lainnya. Semua data tersebut perlu terhubung agar sistem memiliki gambaran kondisi bisnis yang lebih lengkap.
Ketika Sistem Tidak Hanya Memberi Informasi
Perkembangan Decision Intelligence menunjukkan bagaimana peran sistem dalam organisasi mulai berubah.
Dulu, sistem informasi banyak digunakan untuk membantu perusahaan mencatat dan mengelola informasi. Kemudian berkembang menjadi sistem yang membantu pengguna menganalisis informasi dan mengambil keputusan. Sekarang, dengan dukungan AI dan automation, sistem mulai dapat membantu menentukan serta menjalankan tindakan tertentu.
Namun, bukan berarti manusia tidak lagi dibutuhkan. Untuk keputusan yang memiliki risiko besar, manusia tetap berperan dalam menentukan tujuan, aturan, dan batasan yang harus diikuti oleh sistem.
Pada akhirnya, Decision Intelligence bukan tentang menggantikan manusia dengan AI. Konsep ini lebih kepada bagaimana sistem dapat memanfaatkan data yang tersedia untuk membantu manusia membuat keputusan yang lebih cepat, tepat, dan konsisten.
Bagi bidang Sistem Informasi, perkembangan ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola data saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami bagaimana data mengalir antar sistem, bagaimana proses bisnis berjalan, siapa yang menggunakan informasi tersebut, dan bagaimana teknologi dapat membantu menghasilkan keputusan yang benar-benar berguna bagi organisasi.
Karena pada akhirnya, nilai sebuah sistem bukan hanya dari seberapa banyak data yang dapat dikumpulkan, tetapi dari seberapa baik data tersebut dapat digunakan untuk menentukan tindakan.